Prediksi Angka Golput Pada Pemilu Kada

Besarnya pemilih Golongan Putih Atau Golput, menjadi sesuatu yang menakutkan bagi pelaksana pemilu, sebab, jika angka golput tinggi pada pelaksanaan pemilu, maka pelaksana pemilu telah gagal menyelenggarakan pesta demokrasi tersebut. Angka golput pada setiap pelaksanaan pemilu baik Pilgub, Pilleg Dan Pilpres selalu berubah-ubah. Angka golput terbesar, terjadi pada saat pelaksanaan Pilgub. Dimana Golput di Jember hampir mencapai 52 persen. Angka tersebut menduduki peringkat pertama di seluruh Jawa Timur. Mungkinkah angka golput pada pemilu kada akan menurun? Lalu, bagaimana upaya KPU untuk mengantisipasi besarnya angka golput?

Pada pelaksanaan Pilleg lalu, jumlah golput mencapai 29 persen lebih. Jumlah tersebut, melebihi suara partai pemenang pemilu legislatif 2009, Demokrat yang memperoleh suara sebesar 20,85 persen.

Banyak faktor yang melatarbelakangi golput, sebut misalkan, masih adanya masyarakat yang tidak tercantum dalam DPT, kemudian, bisa jadi pula, masyarakat sengaja memilih golput, lantaran mereka enggan datang ke TPS, untuk memberikan hak pilihnya.

Menurut Anggota KPU Kabupaten Jember, Divisi Hubungan Antar Lembaga, Gogot Cahyo Baskoro, pemilih golput akan selalu muncul dalam pelaksanaan pemilu. Untuk itulah, persoalan ini menjadi perhatian serius pihaknya. Gogot mengaku, KPU Kabupaten Jember kawatir angka golput akan tinggi pada Pemilu Kada mendatang. Itu lantaran, KPU sendiri akan mengurangi beberapa volume kegiatan, seperti sosialisasi dan jumlah TPS.

Gogot menambahkan, pihaknya terpaksa mengurangi dua kegiatan tersebut, sebab, anggaran yang ia terima untuk pelaksanaan Pemilu Kada, hanya 33 Miliar Rupiah. Itupun diasumsikan terjadi dua putaran. Untuk itulah menurutnya, KPU meminta semua elemen masyarakat, tidak hanya parpol dan calon bupati, untuk bersama-sama mensosialisasikan pelaksanaan Pemilu Kada. Sehingga kata dia, antusiasme masyarakat datang ke TPS sangat tinggi.

Lebih jauh gogot menjelaskan, KPU Kabupaten Jember menargetkan angka partisipasi masyarakat mencapai 100 persen. Namun, KPU juga harus realistis dengan kenyataan di lapangan, paling tidak menurutnya, tingkat partisipasi masyarakat mencapai 80 persen.

Sementara Anggota Fraksi Keadilan Sejahtera (FKS), Ayong Syahroni menjelaskan, meski anggaran yang dialokasikan untuk KPU jumlahnya sangat minim, namun KPU sudah mengambil langkah cerdas, yakni mengurangi jumlah TPS.

Ayong menilai, daripada KPU mengambil pilihan memotong gaji PPK Dan PPS, lebih baik mengurangi jumlah TPS. sebab menurut dia, tugas yang diemban PPK dan PPS sangat berat, jadi sudah menjadi keharusan, mereka digaji dengan layak.

Mengenai kekhawatiran kebijakan tersebut akan berdampak kepada tingginya angka golput, menurut Ayong, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Masyarakat saat ini sudah sangat cerdas, apalagi partai politik dan calon bupati, akan melakukan sosialisasi.

Tidak jauh beda dengan Ayong, Ketua Fraksi Golkar, Yudi Hartono mengatakan, meski KPU mengurangi jumlah TPS, tingkat partisipasi masyarakat pada pemilu kada tetap akan tinggi.

Menurut Yudi, Pemilu Kepala Daerah sangat jauh berbeda dengan Pemilu Legislatif. Masyarakat akan sangat antusias pada Pemilu Kada, sebab, mereka sudah mempunyai pilihan siapa calon bupati yang akan dipilih. Apalagi lanjut Yudi, Pemilu Kada sangat erat kaitannya, dengan masa depan Jember 5 tahun kedepan. Jadi darisini masyarakat sudah bisa menentukan, siapa yang akan mereka pilih sebagai pemimpin mereka.

Belum lagi nantinya, para calon bupati dan parpol, tidak tinggal diam untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. baik secara langsung, maupun melalui media massa.

(943 views)
Tag: