Mencermati Sikap Ketidaknetralan NU Dalam Pemilu Kada.

Belum lama ini, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, secara kelembagaan, kabarnya akan mengambil sikap tidak akan netral pada Pemilu Kada Jember mendatang. Itu artinya, pada Pemilu Kada nanti, NU akan menyiapkan calon sendiri. Terkait persoalan ini, pertanyaannya adalah, apa alasan PCNU Jember bersikap tidak netral pada Pemilu Kada ? Bukankah sikap ini menyalahi khittah? Bagaimana Parpol Basis NU menyikapi pernyataan ini? Lalu, bagaimana pula pandangan pengamat politik?

Tidak mungkin NU dan Badan Otonom akan mengambil sikap netral, sebab, Warga NU juga warga negara yang mempunyai hak pilih. Ketika NU mengambil sikap netral, maka jamiyah akan mengalami kebingungan dan akan dimanfaatkan oleh pihak lain. Demikian Ungkapan Ketua Tanfidziyah PCNU Jember, Abdullah Syamsul Arifin.

Menurutnya, dengan sikap tidak netral, maka jamiyah akan lebih solid dan utuh, meskipun seandainya kalah, akan lebih terhormat, sebab keutuhan Warga NU lebih menjadi skala prioritas.

Selama ini lanjut Gus Aab panggilan akrab Abdullah Syamsul Arifin, terjadi salah penafsiran terhadap khittah. Khittah sebenarnya bukan berarti bersikap netral, arti sebenarnya Khittah, sebuah garis perjuangan yang dijadikan pijakan oleh NU, dalam berfikir, berpijak dan berbuat.

Gus Aab menambahkan, Khittah sering dimanfaatkan oleh kelompok di luar NU. Mereka memanfaatkan khittah untuk menyerang NU, ketika akan mendukung kadernya yang akan maju pada momentum pemilu. Untuk itulah kata Gus Aab, pada momentum Pemilu Kada mendatang, pihaknya akan mengambil sikap untuk tidak netral, demi keutuhan jamiyah.

Sementara itu, Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jember, Ayub Junaidi mengatakan, pihaknya mendukung sikap yang diambil NU menjelang pelaksanaan Pemilu Kada. Menurut dia, sikap ini sudah dipertimbangkan secara matang oleh pengurus, apalagi dengan sikap tidak netral NU, keutuhan Warga Nahdliyin akan lebih terjamin.

Justru kata Sekretaris DPC PKB Jember ini, jika NU mengambil sikap netral maka warganya akan mengalami kebingungan. Itu lantaran, tidak ada komando langsung dari atasan.

Berbeda dengan Ayub, Ketua DPC PKNU Jember, Lutfi Baihaqi mengatakan, secara pribadi dirinya menyayangkan sikap tidak ketidaknetralan NU pada moment Pemilu Kada mendatang. Semestinya pengurus NU tidak terlalu gegabah dalam menentukan sikap.

Lutfi menambahkan, Sikap PCNU Jember ini justru kontraproduktif dengan Khittah NU, yang dirumuskan di Muktamar Situbondo. Dimana NU dengan tegas menyatakan kembali kepada organisasi sosial keagamaan.

Meski demikian, Lutfi tidak mau berandai-andai, sebab hingga hari ini, secara resmi PCNU belum melakukan sikap apapun. Lutfi berharap, agar sikap ini agar dikaji ulang oleh pengurus cabang.

Sementara Pengamat Politik Universitas Jember, Ahmad Habibullah, melihat sikap ketidaknetralan NU, merupakan sebuah upaya pengurus untuk mempersatukan warganya, sebab, selama ini setiap momentum Pemilu Baik Pilpres, Pilgub, Pemilu Kada, warga NU mengalami kebingungan untuk menentukan sikap.

Habib menambahkan, selama ini dalam setiap moment pemilu, calon yang didukung oleh Elit-Elit NU selalu kalah. Sebut misalkan, pada Pilgub lalu, Dimana Ketua Umum PBNU Mendukung Khofifah, pada moment pilpres, Pasangan Jk-Win juga kalah.

Bisa saja lanjut Habib, kekalahan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi PCNU Jember, untuk menghadapi Pemilu Kada Jember. Hanya saja kata dia, perlu dilihat apakah NU akan mendukung kandidat yang sudah mulai bermunculan atau akan mengusung calon sendiri melalui jalur independent. Sehingga dari sini bisa dilihat, sejauh mana untung ruginya NU mengeluarkan sikap tidak netral.

(688 views)
Tags: