Belasan Aktifis Pelajar Muhammadiyah Demo Tolak Unas

Dinilai terlalu menekan psikologi anak dan mematikan kreatifitas siswa, aktivis Ikatan Pelajar Muhhamadiyah Jember Selasa siang melakukan aksi unjuk rasa tolak unas di kantor dinas pendidikan dan DPRD Jember.

Aktivis IPM Dani Eka Rahmaningtyas menuturkan, dengan dijadikannya unas sebagai standarisasi kelulusan, justru memasung kreatifitas anak. Sebab anak lebih condong melakukan perbuatan tidak terpuji seperti mencontek, bahkan lebih paah lagi bekerjasama dengan guru. Karena guru sendiri tidak ingin dinilai tidak berhasil mendidik siswanya karena banyaknya siswa yang tidak lulus.

Menurut Dani, tidak bisa dipungkiri kualitas pendidikan di Indonesia atau lebih khusus lagi di kabupaten Jember masih belum merata. Bisa jadi siswa sekolah di dalam kota mampu menyelesaikan unas, tetapi bagi sekolah pinggiran sangat sulit bersaing dengan siswa di sekolah perkotaan. Persoalan inilah yang oleh pemerintah pusat tidak diperhatikan.

Sementara kepala dinas pendidikan Ahmad Sudiono mengatakan, meski otonomi daerah, untuk dunia pendidikan tidak bisa dijalankan parsial. Misalnya hanya kabupaten Jember yang tidak melaksanakan unas. Tetapi Ahmad berjanji akan menyampaikan aspirasi IPM kepada jajaran pendidikan di tingkat propinsi untuk selanjutnya di bawa ke pemerintah pusat.

Lebih jauh Ahmad berharap kepada siswa agar tidak terlalu menjadikan unas sebagai beban. Memang ketika seseorang menghadapi apapun pasti akan menjadi beban pikiran. Tetapi jangan sampai berlebihan. Karena ketika dijadikan beban secara berlebihan justru akan membuat prestasi belajar semakin jeblok.

(847 views)
Tags: