Bhakti Sosial Operasi Katarak Gratis Ditutup Ratusan Masyarakat Miskin Kleleran

Bakti sosial operasi katarak gratis bagi warga miskin yang merupakan rangkaian kegiatan dies natalis Universitas Jember Kamis siang dihentikan mendadak. Akibatnya ratusan masyarakat miskin yang sudah mengantri sejak Senin lalu terpaksa harus pulang dengan tangan kosong.

Ahmad Syarif salah satu pengurus yayasan rabitoh alawiyah yang mengantar 21 pasien miskin, mengaku kecewa atas penutupan bhakti sosial ini. Padahal pasien yang dia bawa sudah mengantri sejak hari Senin lalu. Mereka lanjut Syarif, sangat antusias mendengar adanya operasi katarak gratis karena untuk operasi di rumah sakit mereka terbentur biaya.

Seharusnya lanjut Syarif, dinkes tidak serta merta menutup pengobatan gratis ini. cukup memberikan teguran jika memang panitia menyalahi aturan. Tetapi pasien yang terlanjur mendaftar dan antri berhari-hari dituntaskan sampai selesai. Atas penutupan ini Syarif meminta dinas kesehatan bertanggung jawab, setidaknya memberikan fasilitas operasi gratis di rumah sakit.

Senada dengan Syarif rektor Universitas Jember Tarcisius Sutikto juga merasa dirugikan dengan penutupan ini. Sebab jika muncul kesan di masyarakat Unej memberikan bantuan tetapi tidak sampai tuntas, reputasi universitas Jember yang dipertaruhkan. Atas kejadian ini pengobatan gratis serupa dengan menggandeng badan kesehatan asing yang rencananya dilaksanakan bulan Juni mendatang akan dievaluasi apakah masih perlu dilanjutkan.

Sutikto mengakui pihaknya tidak pernah mengurus ijin kepada council kedokteran. Sebab untuk pengurusan ijin tersebut dibutuhkan waktu yang lama, bahkan dua tahun belum tentu keluar. Tetapi yang menjadi pertanyaan Unej sudah melakukan kegiatan ini 4 tahun berturut-turut kenapa baru sekarang dipersoalkan.

Meski demikian Unej sebelumnya sudah mengirimkan surat pemberitahuan resmi kepada dinas kesehatan. Rencana awal Unej ingin melibatkan dokter local, sayangnya tidak ada dokter lokal yang bersedia. Sehingga diputuskan menggandeng 40 orang tenaga medis dari Amerika dan Canada yang mampu melakukan pengobatan kepada 300 hingga 350 orang per hari.

Sementara humas dinas kesehatan Jember Yumarlis saat dikonfirmasi per telfon membantah telah melakukan penutupan acara bhakti sosial Unej tersebut. Menurut Yumarlis, beberapa waktu lalu dinkes menerima surat dari Ikatan Dokter Indonesia cabang Jember yang intinya mempertanyakan ijin pengobatan tersebut.

Sebab sesuai peraturan menteri kesehatan nomor 512 tahun 2007, dokter asing yang akan melakukan praktek pengobatan ataupun transfer ilmu di Indonesia harus mengurus registrasi ke council kedokteran Indonesia. Kedatangan dinas kesehatan ke lokasi bhakti sosial hanya untuk menyampaikan aturan, tidak pernah meminta Unej menutup kegiatan tersebut.

Lebih jauh Yumarlis menerangkan, Unej setiap tahun sebelum mengadakan acara bhakti sosial pengobatan gratis selalu memberitahukan kepada dinkes. Selama ini dinkes tidak pernah memberikan teguran, karena memang baru kali ini IDI menyampaikan surat mempertanyakan legalitas tim dokter yang terlibat.

(1.085 views)
Tag: