Nasib Stadion Menjelang Event International Extreme Cross

Untuk kedua kalinya Event International Extreme Cross akan digelar di Jember. Tidak hanya itu, untuk kedua kalinya pula stadion kebanggaan milik Rakyat Jember Notohadinegoro, kembali akan disulap menjadi sirkuit cross. Jika memang demikian persoalannya, pertanyaan adalah, apa yang menjadi pertimbangan pemkab memilih Stadion Notohadinegoro sebagai sirkuit? Bukankah dengan penyulapan stadion, akan menyebabkan kerusakan rumput? Kemudian bagaimana pula sikap Anggota DPRD Jember terkait persoalan ini?

Manfaat Stadion Notohadinegoro tidak hanya diperuntukkan untuk permainan sepak bola saja. Akan tetapi, stadion dimiliki oleh seluruh Masyarakat Jember, jadi siapapun berhak menggunakannya. Demikian Ungkapan Ketua Panitia International Extreme Cross, Ahmad Sudiyono. Hanya saja lanjut Ahmad, yang perlu digaris bawahi asalkan fungsi stadion kembali seperti sedia kala.

Satu-satunya tempat kata Ahmad, yang memenuhi sesuai standart Ikatan Motor Indonesia, IMI Pusat dan Jawa Timur adalah Stadion Notohadonegoro. Standart tersebut, lokasi berada di dekat kota, kemudian tidak merepotkan crosser dan lokasi harus dipagari tembok.

Ahmad membantah, jika rumput di stadion rusak pasca event yang sama pada tahun lalu. Buktinya sekarang, fungsi stadion kembali seperti semula. Lebih jauh Ahmad menerangkan, pergelaran International Extreme Cross, rencananya bakalan diikuti oleh 9 negara. Diantaranya, Australia, New Zealand, Amerika Inggris dan lain. Event ini akan dilaksanakan tanggal 8-9 Agustus mendatang.

Anggota Komisi D DPRD Jember, HM Baharudin Nur mengatakan, sejak awal pihaknya sudah tidak setuju dengan rencana penyulapan stadion, akan tetapi percuma kata Bahrudin, sebab apa yang menjadi usulan legislatif kepada eksekutif tidak pernah didengarkan.

Mestinya lanjut Baharudin, jika pemkab mengadakan event cross, tidak diselenggarakan di stadion. Sebab kata dia, biaya yang dikeluarkan untuk menyulap stadion, kemudian mengembalikan fungsinya seperti semula, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Daripada kata Baharudin, anggarannya hanya dibuat untuk bongkar pasang stadion, lebih baik anggaran tersebut dibuat untuk membuat bangunan baru.

Baharudin menilai, penyulapan stadion menjadi sirkuit cross sebenarnya salah tempat. Mestinya kata dia, pemkab mencari alternatif tempat lain, sebut misalkan di daerah garahan silo. Senada dengan Baharudin Nur, Anggota Komisi D Lainnya, Sanusi Mochtar Fadilah mengatakan, sejak awal dirinya sudah memperingatkan eksekutif. Sejatinya kata dia, keberadaan event BBJ jangan sampai mengorbankan fasilitas umum.

Sanusi juga menilai, stadion bukan tempat yang layak untuk dijadikan sirkuit cross, sebab seperti tahun lalu, pasca pelaksanaan extreme cross, banyak fasilitas yang berkurang fungsinya. Sanusi menghimbau kepada eksekutif, agar pasca pelaksanaan international extreme cross, fungsi stadion kembali utuh seperti semula.

Sanusi juga berharap, tahun ini merupakan pelaksanaan terakhir event international extreme cross di stadion, sebab kata dia, stadion tidak layak untuk ditempati event seperti itu. Kalau memang tahun depan akan tetap diadakan, pemkab harus segera mencari alternatif tempat selain stadion. Bahkan kalau perlu lanjut sanusi, pemkab membuat bangunan baru khusus event cross.

(895 views)
Tag: