Gonjang-Ganjing Dugaan Money Politik Jelang Konfercab NU Jember

Peraturangan menjelang Konferensi Cabang PCNU Jember semakin memanas. Hal ini terlihat pada saat salah satu pengurus MWC NU Kaliwates, mengeluarkan statemen bahwa salah satu kandidat Ketua PC NU Jember di duga melakukan money politik. Jadi sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, benarkah dugaan salah satu calon ketua tanfidziyah melakukan money politik? Lalu, bagaimana tanggapan pengurus PC NU Jember terkait persoalan ini?

Konferensi Cabang NU Jember merupakan forum tertinggi di tingkatan NU. Di dalam forum inilah, pengurus MWC Dan Ranting akan memilih nahkoda baru NU untuk periode selanjutnya.

Menurut Sekretaris MWC NU Kaliwates, Ahmad Rifai mengatakan, salah satu kandidat Ketua Tanfidziyah PCNU Jember, yakni HM Madini Faoruk, mengundang beberapa Pengurus MWC NU Di Jember. Pada saat pertengahan acara, Gus Mamak panggilan akrab Madini Farouk mengatakan akan memberikan dana jaring aspirasi masyarakat, atau Jasmas sebesar 10 sampai 20 Juta Rupiah kepada tiap-tiap MWC. Rifa’i menambahkan, dirinya menduga upaya ini dilakukan Gus Mamak, untuk meloloskan dirinya sebagai Ketua Tanfidziyah PC NU Jember untuk periode selanjutnya.

Sementara itu, kandidat Ketua PCNU yang diduga melakukan money politik, Madini Farouk membantah keras tuduhan tersebut. Menurutnya, memang beberapa waktu lalu dirinya mengundang MWC NU, namun pada saat itu, dirinya juga mengundang MWC NU Kencong.

Jadi hal ini tidak ada hubungannya dengan momen Konfercab NU Jember, sebab pertemuan tersebut jauh-jauh hari sebelum memanasnya pertarungan kofercab. Apalagi menurut Gus Mamak, pertemuan tersebut dihadiri oleh Pengurus MWC NU Kencong, yang jelas-jelas tidak mempunyai hak suara pada pelaksanaan Konfercab PCNU Jember.

Di samping itu lanjut Gus Mamak, pertemuan tersebut murni karena inisiatif dari anggota DPRD Jember dari kader NU, yang mau mengalokasikan dana jasmas untuk 31 MWC NU Jember dan Kencong.

Di tempat terpisah, Sekretaris PCNU Jember, Alfan Jamil mengatakan, sebenarnya dalam AD ART atapun Peraturan Organisasi tidak ada aturan mengenai sangsi yang akan diterima oleh kader NU yang melakukan kecurangan. Hanya saja, dalam kultur NU ada sangsi moral yang lebih berat hukumannya, belum lagi pertanggung jawaban di hadapan sang pencipta.

Salah satu sesepuh NU, KH Muchit Muzadi menjelaskan, siapapun yang akan memipin NU, baik itu generasi muda atapun generasi tua, jangan sampai memanfaatkan NU sebagai kendaraan politik, sebab menurut beliau, jika pemipimpin NU lebih mementingkan kepentingan pribadi maka dirinya yakin kedepan NU mengalami kemunduran.

Mbah Muchit panggilan akrab KH Muchit Muzadi menambahkan, Ketua NU yang baru nantinya, harus menjadikan NU sebagai rumah. Artinya, ketua yang baru harus merawat jami’iyah NU jangan hanya dijadikan kepentingan sesaat.

(936 views)
Tags: