Berebut Kursi NU, Sebagai Rumah Atau Sebagai Kendaraan Politik?

Dalam waktu dekat Organisasi Kemasyarakatan Terbesar Nahdlatul Ulama’ Jember, akan menggelar momentum pergantian pengurus. Disamping akan mengevaluasi program pengurus selama satu periode, forum yang biasa disebut dengan Konferensi Cabang ini, akan memilih nahkoda baru NU. Nah sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana kondisi NU menjelang pelaksanaan konfercab? Kemudian, siapa saja calon Ketua Tanfidz Dan Rais Syuriah yang mulai bermunculan? Lalu, bagaimana pula pandangan tokoh-tokoh NU menjelang pergantian pengurus?

 

Jika tidak halangan, pelaksanaan Konfercab PC NU Jember akan dilaksanakan pada Tanggal 7 Juni mendatang, dan hampir bisa dipastikan konfercab akan dilaksanakan di gedung Pusdiklat NU Jember. Demikian ungkapan, Sekretaris PC NU Jember, Alfan Jamil.

 

Menurut Alfan, sebenarnya jadwal pelaksanaan Konfercab NU dilaksanakan bulan Agustus mendatang. Namun karena pertimbangan semua pengurus harian, pada Bulan Agustus bertepatan bulan ramadhan maka konfercab dimajukan. Apalagi menurutnya, dari PW NU ada instruksi untuk segera memajukan pelaksanaan konfercab, mengingat pelaksanaan muktamar PBNU sudah sangat dekat.

 

Ketika dikonfirmasi mengenai adanya dugaan untuk menjegal salah satu calon ketua dewan tanfidz, Alfan Jamil langsung membantah dengan tegas isu tersebut. Menurutnya, keputusan utnuk memajukan pelaksanaan konfercab, sudah disepakati melalui rapat pengurus harian.

 

Alfan menambahkan, semua kader NU berhak mencalonkan sebagai ketua tanfidz, hanya saja kata dia, harus memenuhi syarat sesuai dengan Peraturan Organisasi (PO). Misalkan, seorang calon tidak boleh merangkap jabatan public.

 

Sementara itu, Ketua Lajnah Ta’lif Wa An-Nasyr (LTN) PC NU Jember, MN Harisudin menuturkan, yang paling penting saat ini adalah merumuskan sebuah visi untuk kemajuan NU kedepan, artinya janga terjebak kepada persoalan siapa yang akan maju sebagai calon ketua tanfidz ataupun syuriah.

 

Haris menambahkan, masih banyak PR yang harus dilaksanakan NU kedepan. Misalkan, NU harus lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat atau Jam’iyahnya. Karena di lapangan, masih banyak Jami’iyah NU yang tingkat pendidikannya masih rendah, kemudian ada juga yang tingkat perekonomiannya di bawah rata-rata.

 

Selama ini lanjut Haris, NU masih terlalu disibukkan dengan urusan politik praktis, memang, NU tidak bisa lepas dari dunia politik, namun persoalannya NU harus bisa mengambil peran bukan malah terseret langsung ke dunia tersebut. Misalkan, dengan mendistribusikan kader-kadernya. Haris berharap, kedepan siapapun yang terpilih sebagai nahkoda baru NU, bisa membawa NU ke tempat semula yakni pemberdayaan masyarakat.

 

Senada dengan Haris, Ketua Lajnah Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakspesdam) NU Jember, Mohammad Khusnurrido mengatakan, NU sebagai ormas terbesar di negeri ini, harus bisa memposisikan dirinya sebagai organisasi yang berorientasi kepada pemberdayaan umat.

 

Jangan sampai lanjut Khusnurridlo, NU terjebak kepada persoalan politis. Sebab, sebentar lagi akan dihadapkan dengan beberapa politis, seperti momen Pilpres, kemudian momen Pilkada Jember 2010. Nilai-nilai independasi NU menrutnya harus benar-benar ditegakkan pada saat ini.

 

Di tempat terpisah, salah satu calon yang disebut-sebut sebagai calon Ketua Dewan Tanfidz, Gus Aab ketiika dikonfirmasi enggan berkomentar banyak, mengenai munculnya nama dia sebagai salah satu kandidat ketua tanfidz. Menurutnya, untuk sementara waktu dirinya masih fokus untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Katib Rais Syuriah PW NU Jawa Timur. Masih banyak agenda yang harus ia selesaikan, salah satunya silaturrahim PBNU-PWNU-PCNU dan Pondok Pesantren Seluruh Indonesia

 

Mengenai munculnya nama dia sebagai kandidat ketua tanfidziyah, menurut Gus Aab, yang memunculkan itu semua adalah wartawan, bukan MWC dan Ranting N. Padahal kata dia, penentuan siapa yang akan memimpin NU kedepan, ditentukan oleh MWC dan Ranting NU Seluruh Jember.

 

Sementara itu, Sesepuh NU Kiai Muchit Muzadi menuturkan, siapapun yang akan memipin NU, baik itu generasi muda atapun generasi tua, jangan sampai memanfaatkan NU sebagai kendaraan politik. Menurut Mbah Muchit panggilan akrab Kiai Muchit Muzadi, Ketua NU yang baru nantinya, harus menjadikan NU sebagai rumah. Artinya, ketua yang baru harus merawat Jami’iyah NU, jangan hanya dijadikan kepentingan sesaat.

 

(1.066 views)
Tag: