Mengantisipasi Adanya Dugaan Kecurangan Pada Saat UNAS

Hari ini seluruh siswa Sekolah Menegah Atas atau sederajat di pelosok negeri ini, serentak mengikuti Ujian Akhir Nasional (UNAS). Di Kabupaten Jember saja ujian akhir nasional diikuti sedikitnya 14 ribu lebih siswa. Namun, yang menjadi persoalan adalah pada saat pelaksanaan Ujian Akhir Nasional, muncul kekhawatiran adanya kecurangan. Jika memang demikian persoalannya, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana upaya dinas pendidikan mengatasi kekhawatiran adanya kecurangan ini? Kemudian, bagaimana pula sikap wakil rakyat, terkait kekhawatiran adanya kecurangan pada saat UNAS?

 

Sebelum siswa masuk ke dalam kelas, siswa dilarang keras membawa handphone, buku, atau catatan kecil. Kemudian, semua barang milik siswa harus ditaruh di dalam tas dan diletakkan di luar ruangan kelas, siswa hanya diperkenankan membawa alat tulis dan penghapus. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Jember Ahmad Sudiyono, pada saat melakukan inspeksi mendadak ke beberapa sekola.

 

Menurut Ahmad, hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi kecurangan, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh banyak pihak. Tidak hanya itu, dinas pendidikan sudah melakukan koordinasi dengan aparat kepolisian, dengan menempatkan sedikitnya 2 personil kepolisian di masing-masing sekolah, kemudian tim pengawas independen yang bekerjasama dengan Universitas Jember.

 

Ahmad juga menjamin pada UNAS sekarang tidak akan terjadi kecurangan, sebab dilihat dari tata tertib serta sistem pengamanannya, kekhawatiran adanya dugaan kecurangan tidak akan terjadi. Ahmad menambahkan, terkait dengan target lulusan siswa SMA di Kabupaten Jember, Dinas Pendidikan Jember menargetkan kelulusan sebesar 99 %, target tersebut tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya.

 

Target tersebut lanjut Ahmad tidaklah terlalu berlebihan, sebab, naiknya standar nilai dari 5,25 menjadi 5,50 sebenarnya hanya dijadikan sebagai ukuran, sejauh mana kesiapan siswa menghadapai ujian nasional. Kemudian, sejauh mana siswa mampu menyerap bahan kurikurlum, serta apakah kurikulum tersebut dapat diterapkan di seluruh Indonesia.

 

Lebih lanjut Ahmad menjelaskan, pantauan dinas pendidikan di lapangan, proses ujian akhir nasional berjalan dengan lancer. Hanya saja, pihaknya masih belum bisa memastikan berapa jumlah siswa yang tidak mengikuti ujian, sebab, Dispendik masih menunggu berita acara hasil rekapitulasi dari pihak sekolah.

 

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Jember, Miftahul Ulum mengatakan, sejauh ini DPRD melihat persiapan lembaga-lembaga sekolah untuk menghadapi ujian akhir nasional sudah maksimal. Ulum menambahkan, bahkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan UNAS, sekolah sudah mempersiapkan muridnya. Seperti mengadakan beberapa kali try out, kemudian kegiatan spiritual seperti istighosah atau berdoa bersama di masing-masing sekolah dengan melibatkan orang tua.

Dikatakan, melihat persiapannya DPRD optimis, hasil ujian akhir nasional di Kabupaten Jember akan maksimal, serta output dari lulusan SMA di Jember akan mampu bersaing dengan lulusan SMA di kota-kota lain. Lebih lanjut ulum menjelaskan, dirinya juga berharap agar kekhawatiran mengenai adanya dugaan praktik perjokian tidak akan terjadi. Seandaunya hal ini terjadi, maka yang dirugikan adalah siswa. Pasalnya, pada saat siswa akan meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, tentu akan terbebani lantaran hasil ujian yang ia peroleh bukan murni hasil belajarnya

 

Pantauan Komisi D di lapangan lanjut Ulum, pada hari pertama ujian nasional semua berjalan dengan lancer, dan semoga saja kata ulum lancarnya perjalanan UNAS ini, akan berdampak pada maksimalnya hasil ujian nasional.

(936 views)
Tags: