Pendidikan Politik Dan Buka-Bukaan Dana Kampanye Ala Caleg

Menjelang pelaksanaan pemilu berbagai upaya dilakukan caleh untuk mendapatkan simpati masyarakat. Salah satunya adalah para caleg melakukan penandatanganan komitmen untuk tidak melakukan politik uang. Tidak hanya itu, para caleg juga tidak segan-segan, untuk membeberkan dana kampanyenya. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, Apakah pembeberan dana kampanye tersebut, bisa menarik simpati masyarakat? Kemudian, Apakah cara tersebut dapat memberikan pendidikan politik yang baik? Lantas, bagaimana pula komentar pengamat politik?

 

Belum lama ini, salah satu pematau pemilu independent, Jaring Pemilih Rasional (Japer) memfasilitasi sejumlah caleg, untuk berdialog dengan masyarakat di Pasar Tanjung. Tidak hanya itu, di samping menandatangani pakta integritas anti politik uang, beberapa caleg tidak sungkan-sungkan, untuk membeberkan berapa dana yang telah ia gelontor selama masa kampanye.

 

Menurut caleg DPR-RI dari Partai Demokrat, Dokter Subagio, sejauh ini dirinya sudah mengeluarkan dana kampanye sebesar 450 Juta Rupiah. Menurutnya, dana tersebut tidak semuanya ia berikan kepada konstituen. Namun, sebagian besar dana tersebut diperuntukkan untuk program pendidikan caleg DPRD Kabupaten Dan Provinsi. Dengan harapan, Partai Demokrat memiliki caleg berkualitas dan mempunyai integritas yang tinggi.

 

Berbeda dengan Subagio, Caleg DPRD Jember, dari Partai Matahari Bangsa (PMB), Dwi Heru Nugroho, mengaku sejauh ini dana yang ia keluarkan sudah mencapai 40 Juta Rupiah. Heru yang juga salah satu Wartawan Media Online, menambahkan, disamping dari dana pribadi, dana kampanyenya didapat dari sumbangan simpatisan dan konstituennya.

 

Lain Heru, lain pula Rendra Wirawan. Caleg DPRD Provinsi Jawa Timur Ini,  pada awalnya enggan menyebutkan berapa dana yang telah ia keluarkan, bahkan Rendra tampak malu ketika diminta menyebutkan berapa dana yang telah ia keluarkan. Namun setelah didesak, Rendra yang juga anggota Komisi B DPRD Jember, akhirnya mau menyebutkan dana kampanyenya. Menurutnya, sejauh ini dirinya sudah menghabiskan dana sekitar 500 Juta Rupiah.

 

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Jember, M Nur Hasan mengatakan, sebenarnya seorang caleg tidak harus terlalu vulgar, mengenai persoalan besaran dana kampanye. Sebab, perilaku tersebut justru menunjukkan caleg tersebut tidak percaya diri. Kemudian kata Nur Hasan, jika seorang caleg bermaksud untuk mendapatkan dukungan, dengan cara buka-bukaan dana kampanye, malahan sikap tersebut menimbulkan kontra produktif. Artinya, besar kemungkinan tidak akan mendapatkan simpati dari masyarakat.

 

Apalagi, sekarang masyarakat sudah bisa meniilai, dana yang dikeluarkan caleg merupakan konsekuensi politis, terhadap kedudukan atau jabatan yang ia incar. Kemudian, bisa jadi masyarakat terutama yang tidak mendapat bagian, akan menanggapi dengan sinis.

 

Namun lanjut Nur Hasan, jika tujuannya untuk transparansi kepada masyarakat, seharusnya tidak disampaikan dengan sangat vulgar, apalagi di hadapan khalayak ramai. Jika caleg ingin transparansi mengenai dana kampanyenya, sebaiknya caleg mengekespos ke media.

 

Tidak hanya itu, Nur Hasan menilai cara tersebut tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Pasalnya, masyarakat belum bisa menilai secara proporsional, mengenai pengeluaran dana kampanye caleg. Bahkan kata dia, bisa jadi di masyarakat muncul prasangka buruk, dari mana dana kampanye milik caleg, serta peruntukannya kemana saja.

 

(790 views)
Tag: