
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 pada 7-8 Februari di Kabupaten Jember, diharapkan menjadi momentum penting dalam menjawab keresahan masyarakat terkait persoalan tumpukan sampah yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Sekretaris World Cleanup Day (WCD) Core Team Jember, Harry Bagoes Prasetyo, mengatakan, keterlibatan masif berbagai komunitas lingkungan serta institusi pendidikan dalam HPSN 2026 menjadi modal kuat untuk mendorong perubahan nyata dalam sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Jember.
Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat sejak usia dini diyakini mampu membangun kesadaran kolektif sekaligus membentuk pola pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di masa depan. Dengan kolaborasi yang solid antara komunitas, pelajar, dan pemerintah daerah, Jember optimistis mampu keluar dari persoalan klasik sampah.
HPSN 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi benar-benar menjadi titik balik bagi Jember dalam menata pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Ia menjelaskan, HPSN diperingati setiap 21 Februari sebagai refleksi atas tragedi longsor Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Jawa Barat, yang terjadi pada 21 Februari 2005. Dalam peristiwa tersebut, gunungan sampah setinggi sekitar 60 meter meledak akibat gas metan, kemudian longsor setelah diguyur hujan deras.
Akibat kejadian tersebut, dua kampung tertimbun dan sedikitnya 157 orang meninggal dunia. Tragedi ini menjadi pelajaran pahit bagi bangsa indonesia tentang pentingnya pengelolaan sampah yang aman dan berkelanjutan.
Berdasarkan peristiwa itu, pemerintah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Penetapan ini dimaksudkan sebagai pengingat bagi seluruh pihak agar pengelolaan sampah dilakukan secara serius dan terencana, sehingga tragedi serupa tidak kembali terulang di masa mendatang. (Ulil)
(239 views)