Produksi Pertanian Di Tengah Anomali Cuaca

Tahun 2010 merupakan cobaan berat bagi petani, anomali cuaca atau perubahan cuaca yang tidak biasa membuat petani terpukul. Di beberapa tempat hasil produksi pertanian terus menurun, bahkan ada yang gagal total. Padahal pada tahun 2010, Pemkab Jember kabarnya menargetkan hasil produksi pertanian mencapai satu juta ton. Jika memang demikian persoalannya, mungkinkah target tersebut akan terealisasi? Kemudian bagaimana pula Pemkab Jember menyikapi gagal panen di beberapa tempat?

Keberadaan anomali cuaca mau tidak mau harus diterima, dan harus segera melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Paling tidak di masa yang akan dating, kejadian tersebut bisa dijadikan acuan bagi semua petani. Demikian Ungkapan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jember Hary Wijayadi.

Hari mengakui jika di beberapa tempat, petani ada yang gagal panen. Namun kata dia, jumlahnya tidak begitu signifikan. Gagalnya panen tersebut bisa di tutupi dengan tanaman padi 5 ribu hektar, jagung 2 ribu hektar dan kedelai seribu hektar.

Hari membantah jika anomali cuaca menjadi penyebab utama gagalnya panen. Menurutnya faktor paling besar penyebab gagal panen adalah tingginya serangan hama, seperti di daerah Rambipuji, Sukorambi Dan Kaliwining.

Lebih lanjut Hari menjelaskan, target produksi tanaman pangan di Jember pada tahun 2010, tidak jauh berbeda dengan tahun lalu yakni 880 ribu ton. Hal ini disebabkan karena perubahan cuaca dan serangan hama. Untuk memenuhi target produksi tersebut, saat ini dinas pertanian terus mengoptimalkan proses pendampingan di lapangan.

Sementara Koordinator Forum Komunikasi Petani Jember Jumantoro mengatakan, perubahan cuaca yang sangat ekstrim dan serangan hama membuat hasil produksi pertanian menurun drastic.

Jumantoro mengaku pesimis, target produk pertanian jember sebesar 1 juta ton akan bisa terpenuhi. Sebab di beberapa tempat termasuk miliknya mengalami gagal panen. Untuk itulah pemerintah daerah harus segera mengambil langkah strategis terkait persoalan tersebut. Jumantoro kawatir, jika tidak ada langkah konkrit dari pemerintah, tidak menutup kemungkinan petani yang gagal panen jumlahnya akan bertambah.

Secara terpisah, sebelumnya salah satu Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) joko suyono memperediksikan akibat perubahan cuaca, hasil produksi pertanian di jember akan menurun sekitar 40 persen.

Kondisi ini kata dia, jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun lalu, dimana hasil produksi pertanian di wilayahnya sangat besar. Untuk itulah lanjut joko, saat ini pihaknya terus menerus mensosialisasikan dan memberikan pendampingan secara intens kepada petani.

(1,076 views)
Tags: