Melihat Potensi Golput Pada Pemilu Kada

Fenomena pemilih Golongan Putih (Golput) selalu muncul dalam setiap pelaksanaan pemilihan umum. Di jember misalkan, angka pemilih golput selalu tinggi. Bahkan pada pilgub putaran kedua lalu, angka golput mencapai 52 persen. Saat itu, angka tersebut menduduki peringkat pertama di seluruh Provinsi Jawa Timur. Terkait persoalan tersebut, bagaimana prediksi golput pada pelaksanaan Pemilu Kada? Kemudian, bagaimana langkah kpu untuk meminimalisir angka golput? Lalu, sebagai pengusung cabup, bagaimana pula langkah parpol?

KPU Kabupaten Jember mencatat, angka golput pada setiap pelaksanaan pemilu mengalami penurunan, hanya saja jumlahnya tidak terlalu signifikan. Pada pilgub putaran pertama, golput mencapai 51 persen, pilgub putaran kedua naik menjadi 52 persen, pilleg 45 persen dan pilpres 42 persen.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik (FISIP) Universitas Jember, Ahmad Habibullah memperkirakan angka golput pada pelaksanaan pemilu kada mendatang, akan tetap berkisar pada angka 40 persen.

Itu artinya lanjut Habib, tingkat partisipasi masyarakat pada pelaksanaan pemilu kada hanya 60 persen saja. Banyak faktor yang melatarbelakangi masyarakat akan bersikap golput. Salah satunya persoalan pekerjaan.

Habib melihat, masyarakat khususnya yang ada di akar rumput atau di pedesaan, akan lebih cenderung memilih rutinitasnya setiap hari, daripada datang ke TPS. Misalkan seorang petani akan lebih memilih datang ke sawah. Belum lagi misalkan, ada masyarakat yang belum terdata di Daftar Pemilih Tetap (DPT), sehingga secara otomatis mereka akan golput lantaran persoalan administrasi.

Untuk itulah kata Habib, dirinya berharap agar semua calon dan tim pemenangan, mendorong masyarakat agar pada saat pencoblosan mereka datang ke TPS. Serta yang tak kalah penting, para politisi memberikan pendidikan politik yang santun kepada masyarakat.

Sementara Ketua KPU Kabupaten Jember, Ketty Tri Setyorini optimis, angka golput pada pelaksanaan pemilu kada akan turun. Pasalnya kegiatan pemilu kada jauh berbeda dengan pilgub pilpres maupun pilleg.

Ketty yakin, animo masyarakat akan semakin besar. Apalagi pasca penambahan TPS, masyarakat tidak perlu lagi datang terlalu jauh dari rumahnya. Sedangkan yang sakit, kpu juga menyediakan TPS khusus di sembilan rumah sakit.  KPU lanjut Ketty, pada perhelatan pemilu kada 2010 tidak mau terlalu bermuluk-muluk terkait tingkat partisipasi masyarakat. KPU Menargetkan paling tidak  mencapai 70 persen.

Tidak jauh berbeda dengan Ketty, Anggota FKB DPRD Jember, Abdul Halim optimis, tingkat partisipasi masyarakat pada pemilu kada akan meningkat. Menurut Mantan Anggota Komisi D periode lalu itu, semua parpol sudah mensosialisasikan kepada seluruh konstituennya, agar menggunakan hak pilihnya pada tanggal 7 juli mendatang.

Apalagi lanjut Halim, Pemilu Kada tidak bisa disamakan dengan pilpres. Dia yakin, jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi lima tahunan itu digelar, masyarakat sudah punya pilihan siapa pemimpin yang akan ia pilih nantinya.

(824 views)
Tags: